de Jurish….


DON’T KILL ME : A Male Magazine Shoutout
December 2, 2008, 8:48 am
Filed under: just thougt.. | Tags: ,

DON’T KILL ME : A Male Magazine Shoutout

 

Pagi ini saat mampir ke kios majalah langganan untuk beli majalah, pandangan gw langsung tertuju pada sebuah majalah dengan cover berpenutup setengah lembar kertas kertas berwarna hitam dengan tulisan besar2 “DON’T KILL ME”.

Majalah itu ada di deretan majalah bagian majalah pria dewasa.. dan ternyata majalah-majalah ’tetangga’-nya di deretan yang sama juga cover nya tertutup setengah oleh selembar kertas. Pada majalah lain cover itu dijadikan sekaligus space iklan karena berisi sponsor, namun di majalah lainnya ada tulisan besar-besar dengan tanda lingkaran merah yang di silang. Berbunyi : ’ANTI PORNOGRAFI’

Well.. ini kah dampak langsung dari disahkan dan diterapkannya UU Pornografi ?

I think the answer is : YES !

Majalah-majalah pria dewasa itu seakan-akan takut ’dibredel’ oleh ke-Maha-Daya-an Undang-Undang Pornografi. Atau mungkin takut diteror oleh organisasi massa yang concern dan intense mengurus masalah pornografi dan pornoaksi. Atau yang paling realistis, mereka TAKUT GA LAKU. Ya.. ga laku karena para pelanggan nya yang setiap bulan selalu menunggu terbitnya artikel-artikel menarik beserta, tentu saja, gambar dan foto yang menarik pula. Who know’s ?

Masih menancap dengan jelas di ingatan, tentang majalah terkenal dunia yang beberapa tahun lalu akhirnya menerbitkan edisi Indonesia nya, namun apa yang terjadi.. majalah super dari luar negeri itu ternyata tunduk juga kepada demo-demo dan gerakan represif dari ormas-ormas anti pornografi dan pornoaksi. Mereka akhirnya tutup kantor dan majalah edisi Indonesia itu sudah tidak lagi terbit. And you know what magazine is, PLAYBOY Indonesia.

Sebetulnya mereka sempat melakukan gerakan-gerakan gigih dan keukeuh untuk tetap terbit walaupun banyak, hamper semua, sponsor nya yang diancam untuk tidak bekerja sama dan memberi dana ke PLAYBOY Indonesia. Masih jelas di ingatan gw ketika 5 edisi terakhir dr majalah itu yang di dalam nya banyak menyisakan halaman kosong yang bertulikan “untuk sahabat dan rekan kerja kami yang diancam”.. yang maksud nya adalah para sponsor yang dilarang beriklan. Sebuah protes, kritikan, namun juga expresi nelangsa mereka karena terus-menerus ditentang.

Sebetulnya salahkah majalah-majalah pria dewasa ini? Pasti ada beragam jawaban. Yang jelas buat gw yang notabene adalah pembaca rutin mereka, yang adalah pria dengan kategori dewasa, karena di cover majalah-majalah tadi selalu tercantum +21 dan umur gw memang lebih dari angka tersebut. In my humble opinion, and ofcourse in honestly, gw ga merasa majalah tersebut semua nya porno. Walaupun ada yang memang menjual “paha dan dada” saja untuk menarik minat pembeli, gw pakai istilah pembeli karena mereka cenderung bukan membaca, tapi melihat, namun ada beberapa majalah, bahkan banyak, yang benar-benar ‘berisi’. Dari segi artikel, issue, dan paparan-paparan lain nya. Nbahkan foto-foto di dalam nya boleh gw kategorikan ke arts, karena ofcourse arts sometimes contain of sensuality, and it’s no problem.

Lalu, kenapa banyak dari ‘orang-orang’ tidak menyukai majalah pria dewasa ini, bahkan berambisi sangat untuk mematikan usaha penerbitan nya?

Jawabnya lagi-lagi beragam. Mungkin, dan saya tebalkan kata MUNGKIN, karena boleh jadi mereka hanya memandang dari satu sisi. Ato bahkan mereka hanya mendengar dan tidak secara langsung membca dan melihat keseluruhan isi majalah.

Bukankah wajar bila sebuah majalah dengan segmen pembaca dewasa memberikan cara-cara tips dan trik untuk mendapat kepuasan ranjang bagi para pasangan. Karena toh hal itu juga banyak dilakukan majalah wanita. Lalu di mana salahnya. Menamplikkan foto atau gambar opposite sex juga wajar dilakukan oleh majalah wanita, tapi kenapa yang dipermasalahkan Cuma majalah pria dewasa. Apa pornografi dan pornografi bisa dibedakan dari jenis kelamin? Bila jawabannya iya maka tidak akan apa-apa bila melihat pria telanjang di majalah wanita. Begitu ?

Tentu saja jawaban sebagian besar dari kita adalah TIDAK.

Lalu di mana salah nya.

Menurut gw salah nya terletak pada belum mumpuninya pendidikan masyarakat kita. Jawaban yang terdengar cliche? Mungkin. Tapi jelas menurut gw itulah jawabannya. Karena majalah pria dewasa dan majalah wanita dewasa, sesuai dengan nama nya yang menyandang atribut lata dewasa, diperuntukkan bagi orang-orang yang dewasa. Bila menyebut nominal angka adalah +21, seperti yang tertulis.

Sayangnya, bangsa ini belum bisa mangkap syarat mudah ini. Karena majalah tesebut masih beredar diperdagangkan dengan lelauasa banyak yang bisa membelinya. Dari anak-anak SD sampai kakek-kakek juga bebas membeli, membaca, melihat, mengangumi, berfantasi, dan melakukan hal-hal lain.

Entahlah mau kemana dan bagaimana akhirnya. Tapi yang jelas, sayang sekali bila di era informasi ini sesuatu masih harus dilarang dengan pandangan sebelah yang tidak berimbang.  Dan juga perlu disayangkan bila para pihak redaksi majalah-majalah pria dewasa tersebut juga tidak memahami dan mengerti etika berimbang yang seharusnya dapat diterapkan di masyarakat kita. Dan jangan lupa untuk memperbaiki sistem kebebasan informasi di negara ini. Mungkin karena euphoria berlebihan setelah sekian lama terkungkung. Banyak kreatifitas ’kebablasan’ yang justru merugikan kreatifitas lainnya. Termasuk masalah peredarana majalah pria dewasa.

Just want to be wise dalam menyikapi masalah ini. Karena semua nya punya kepentingan, aren’t it.